Tanggal Posting

December 2011
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Aktifitas


Tanganmu Itu, Ibu!

oleh Islisyah Asman,Desember 2011

Siang sudah sampai pada pertengahan. Ibu begitu anggun menyambutku di depan pintu. Gegas kurengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rinduku padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubunku. Lama ciumannya.

“Alhamdulillah, kamu sudah pulang”, itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, kudapati ruangan depan itu sungguh bersih. Aku memang sudah lama tidak pulang.

Ba’da Ashar,

“Nak, tolong angkat panci itu, airnya sudah mendidih”. Gegas kuangkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. “Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja” fikirku.

“Eh, tolong bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram tanaman”. Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Aku segera memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Kupandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.

“Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, lalu jemur di pagar, ya?” pinta Ibu.

“Eh, bantu Ibu potong-potong daging ayam ini”.  Sekilas aku memandangi Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben, Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.

Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika aku masuk rumah sepulang dari ziarah di kuburan Ayah.

“Abang …….” itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arahku.

“Bu, siapa itu?” tanyaku.

“Oh, itu yang bantu-bantu Ibu sekarang”, ujar beliau pendeknya.

Aku semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.

Semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika aku menemaninya tilawah Qur’aan selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf Al-Qur’an. Mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-urat yang menonjol jelas terlihat. Tetapi bukan itu yang membuatku tertegun. Tangan itu terus bergetar. Aku berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak aku pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?

“Dingin” bisikku, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepalaku. Aku memeluknya, untuk merengkuh banyak kehangatan yang telah dilimpahkannya kepadaku, tak berhingga.

Adzan Isya berkumandang,

Ibu berdiri di belakang samping kananku, aku bersiap menjadi imam. Tak lama suaraku memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang kubacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.

Usai shalat, aku berbalik menghadap ke arahnya, munggunya membaca wirid, dan seperti tadi aku pandangi lagi tangannya yang terus bergetar.

“Duh, Allah, sayangi Mamah”, spontan aku memohon.

“Neng”, suara ibu membuyarkan lamunan. Kini tangannya terangsur di depanku, kebiasaan saat selesai shalat, kurengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.

“Tangan ibu kenapa?” tanyaku pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum manis sekali.

“Penyakit orang tua”, begitu katanya

“Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga” tambahnya.

Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Aku memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerah di atas sana sejak tadi.

Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, aku membayangkan senyuman manis ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Mengapa? Tiba-tiba aku seperti melayang layaknya.

Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untukku. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalanku. Tangan yang selalu berangsur mengulurkannya ke kepala dan membetulkan letak kopiahku ketika aku tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika aku mencari kekuatan di pangkuannya saat hatiku bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang kujalani. Tangan yang pernah membuatkan manuk-manuk ayam dengan pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar aku ketika aku masih kecil, yang katanya biar aku lebih bersemangat belajar.

Sewaktu aku  baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuatku mengerutkan dahi. Pasalnya, beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang kusukai. Ibu memang suka menyanjung diriku:

—————-

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam. Bukan!  Kau lebih dari itu. Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana. Bukan!  Kau lebih dari itu. Kau adalah benderang matahari di tiap waktu. Bukan!  Kau lebih dari itu. Kau adalah sinopsis semesta. Itu saja.

—————-

Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang pernah kubaca dari sebuah buku. Jika kurenungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, dan ketulusan.

Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?  Pernahkah?

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, aku masih mencoba merajuknya.

“Bu, ikutlah ke Jakarta, biar dekat dengan anak-anak”.

“Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian. Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang” Jawabannya ringan.

Tak ada air mata, seperti saat-saat dulu melepaskan aku pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah.

Sebelum pergi, kurengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , kureguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untukku. Selagi sisa waktu yang kupunya masih ada, tangannya kuciumi sepenuh takzim. Aku takut, sungguh takut, tak dapati lagi berkesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.

@@@@@@@

Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Karena itu, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya.


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>